Menyandang predikat mahasiswa adalah dambaan banyak orang. Hal yang membuat predikat satu ini menjadi incaran dan rebutan bagi siapapun yang doyan kenikmatan dunia, antara lain memuaskan dahaga akan ilmu, atau ingin meningkatkan status sosial ekonomi kelak di kemudian hari, bahkan ada juga yang sekedar buat gengsi dan kesenangan. Berbagai alasan inilah yang kelak akan menentukan tipe mahasiswa seperti apakah dia ketika berkiprah di bangku perkuliahan, di samping faktor lain salah satunya pergaulan yang dipilih.

Yang tak kalah krusial, kampus juga sangat fungsional untuk melakukan transformasi pemikiran. Artinya, kampus menjadi kawah candradimuka berkembangnya aneka warna pemikiran dengan kadar kemandirian yang luar biasa. Kemampuan kalangan mahasiswa merespon berbagai arus pemikiran yang eksis di kampus bakal memproduksi tipologi mahasiswa bukan hanya sekedar ”penghapal” (memorizer), textbook-oriented, dan kutu buku, tapi mewujud sebagai kaum pemikir dengan gagasan-gagasan yang cerdas dan berkualitas. Dalam bahasa populer kampus, golongan terakhir ini dikategorikan sebagai ”aktivis kampus”.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di sebuah perguruan tinggi, yang terlintas dalam benak kebanyakan mahasiswa adalah bagaimana supaya dapat kuliah dengan baik, mencapai cita-cita yang sejak awal dibawa dari kampung atau tempat asal, lalu kemudian mendapatkan pekerjaan yang baik. Gambaran tentang kehidupan kampus yang sebenarnya masih tampak buram. Tetapi apa yang terjadi kemudian, selang beberapa waktu kemudian terjadi perubahan seiring dengan perjalanan akademik mahasiswa. Setiap orang mulai memilih jalannya sendiri-sendiri. Entah itu teman sepergaulan, kegiatan kampus yang bakal dilakoni, maupun organisasi tempat berkiprahnya. Semua itu tergantung dari pemahaman dan idealisme masing-masing. Sehingga mahasiswa itu bergolong-golong dengan karakteristik yang berbeda-beda pula.

Di tengah-tengah kehidupan kampus yang nyaris merampas seluruh waktu dan tenaga, lebih-lebih materi, seperti kuliah yang harus tepat waktu, memburu deadline tugas pemberian dosen, obrolan dengan teman, dan juga masalah pribadi atau keluarga, membuat banyak mahasiswa enggan untuk melirik sisi lain dari kehidupan ini. Suatu dimensi kehidupan dimana yang menjadi target adalah keridhaan Allah dan alam akhirat. Yang familiar dengan sebutan hidup fii sabilillah. Menjadi mahasiswa memang menyisakan kebanggaan, tapi yang lebih urgen bahwa mahasiswa menghajatkan kesyukuran, dengan kekuatan potensial yang dimilikinya.

Mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik sehingga mempunyai horizon yang lebih luas untuk bergerak dalam atau di antara lapisan masyarakat. Level pendidikan tinggi yang disandang oleh mahasiswa memposisikan mereka sebagai kelompok dengan tingkat legitimasi yang sahih tatkala bergerak ke tengah-tengah masyarakat. Perlu dipahami bahwa status ”berpendidikan” apalagi ”berpendidikan tinggi” menjadi kartu As sebagai parameter untuk merebut simpati dan memenangkan wacana publik. Status ini juga bakal menjadi katalisator untuk memadukan antara aspek kekaguman – yang muncul dari penguasaan ranah akademik – dan kepercayaan publik – yang bersumber dari pemahaman ladang organisasi. Hingga kemudian mahasiswa (masyarakat pergurun tinggi) digolongkan sebagai masyarakat intelektual dan sosial. Dinamika kehidupan kampus akan tercipta dengan adanya integrasi antara kapabilitas ilmiah-akademis dan sensivitas sosial-intelektual.

Kampus bukanlah kumpulan orang-orang terasing dari masyarakat. Masyarakat kampus bagian dari masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Karenanya, aktivitas mahasiswa harus memperhatikan permasalahan sosial di sekitarnya, khususnya lewat berbagai organisasi mahasiswa yang ada dalam kampus. Dalam masyarakat kita, orang-orang berpendidikan tinggi masih menjadi rujukan. Itu artinya setiap jebolan kampus sedikit banyak dapat mempengaruhi persepsi dan ritme kehidupan masyarakat. Tak jarang sarjana diangkat menjadi pemimpin masyarakat, baik formal ataupun informal. Potensi dan peran ini harus ditangani secara serius oleh kiprah dan aktivitas mahasiswa, yang lazim dinamakan sebagai mahasiswa aktivis. Berbagai aktivitas sosial-intelektual mahasiswa harus berdaya menelorkan pribadi-pribadi yang dapat membimbing dan mengarahkan masyarakat untuk kemajuan moral dan material. Dalam bahasa lain, mahasiswa dituntut tidak hanya sebagai agen perubahan (agent of change) tapi juga pengaruh perubahan (director of change).

Memimpin dan mengarahkan masyarakat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak juga seringan membaca teori dalam buku. Maka latihan memimpin masyarakat yang beragam (plural) sangat dibutuhkan. Para mahasiswa bisa melatih diri dalam unit-unit maupun institusi-institusi yang ada di kampus, seperti Lembaga Mahasiswa Jurusan (LMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pada tingkat fakultas maupun universitas, karena kampus merupakan prototype masyarakat pada umumnya. Bila mahasiswa pada umumnya hanya berjalan pada konsep 4 K (kos, kampus, kantin, dan kampung), maka bagi aktivis mahasiswa dapat memegang hak paten 5 K (kos, kampus, kantin, kampung, dan khalayak).