Menjadi kebanggaan tersendiri tentunya bisa menyandang gelar sebagai mahasiswa. Namun menjadi mahasiswa tidak sesederhana yang kita pikirkan, dan tidak serumit yang kita bayangkan. “Simple, namun menuntut keseriusan dan pertanggungjawaban untuk direalisasikan”, ujar Gubernur Mahasiswa di pidato pembukaan P2K (Program Pengenalan Kampus) di sebuah fakultas UNSRI.

Kalimat itulah yang terngiang-ngiang di telinga Andrea Arienty saat pembagian kelompok P2K, sehingga dia tak mendengar teriakan kakak tingkat yang memanggil namanya berulang-ulang.. “Hey, nama kamu bukan tuh yang dipanggil”, ujar seorang cewek yang memerhatikannya melamun sejak tadi. “Emmm.. sayaa kak”, jawabnya dengan terbata-bata. “Duh.. ni anak jawab kek dari tadi, jangan buat esmosi gini eh emosi maksudnya”, balas kak Ferry yang menjadi kakak asuk kelompok dua.

“Ya uda, sekarang saya ulangi nama-nama anggota kelompok dua, Nur Asyura, Boni, Zainal Arief, dan Andrea Arieanty”, sambung kak Riri juga kakak asuh kelompok dua. “Hah.. si jangkung itu kan yang menabrakku saat daftar ulang waktu itu, ih amit-amit dah sekelompok sama dia”, ujar Arieanty dengan penuh emosi. “Yee.. siapa juga yang mau sekelompok sama anak manja yang kerjaannya melamun”, balas Boni tak kalah saing. “Eh udah.. udah.. kita ini sekarang sekelompok jadi jangan gak kompak gitu dong”, ujar cewek yang memperhatikan Arieanty melamun tadi yang ternyata bernama Nur Asyura atau sering dipanggil nunu.

“Yak mulai sekarang tak ada lagi kata musuhan, baikan sana”, ujar Arief sambil menyenggol pundak Boni. Dan dengan terpaksa boni dan arieanty bermaaf-maafan. Semenjak kejadian itu kelompok mereka terlihat kompak sampai hari terakhir program pengenalan kampus, kelompok mereka dinobatkan menjadi kelompok yang terfavorit dari seluruh peserta.

Berawal dari situlah pertemanan keempat mahasiswa baru UNSRI itu berlanjut menjadi persahabatan. Sejak seminggu ospek itulah akhirnya mereka mengenal satu sama lain dan  membuat keempat anak tersebut menjadi lebih akrab. Karena mereka ternyata mempunyai latar belakang kehidupan yang sama, mereka sama-sama berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Dan ingin membuktikan kepada keluarga mereka kalau mereka bisa lulus dalam jangka waktu paling lama empat tahun dengan nilai memuaskan agar kehidupan keluarga mereka menjadi harmonis kembali.

Hhahahaa.. rada berlebihan juga yah cita-cita mereka, pada dasarnya semua mahasiswa emang kepengennya kayak gitu kalee. Nah.. tapi itulah uniknya persahabatan mereka, karena mereka punya satu misi yang sama jadi mereka saling mendukung satu sama lain.

Namun untuk menyelesaikan satu misi itu mereka harus mengalami kejadian yang tak pernah mereka bayangkan atau sering disebut ”asam garam” bagi para mahasiswa baru UNSRI yang belum terbiasa seperti mereka berempat. Yang pertama adalah Andrea Arieanty. Dia tinggal di pulau Jawa, lebih tepatnya di Tangerang. Sehingga dia harus merantau dari kedua orang tuanya. Hidup ngekost adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Banyak hal yang harus dilakukannya sendiri semenjak dimulainya ospek, tepatnya pada bulan puasa tahun ini.

Dia harus merasakan puasa pertama jauh dari orang tuanya, harus masak atau pun mempersiapkan makanan untuk buka puasa dan sahur sendiri. Arieanty sebenarnya adalah sosok anak yang manja tapi dia mampu bertahan hidup ngekost atas dukungan dari sahabat-sahabatnya. Dari nyuci baju sendiri (yaeyala,. Siapa yang mau nyuciin kl di kostan), sampe hal kecil yang tidak pernah dia lakukan sendiri di rumah sekarang sudah bisa dia lakukan.

Selain itu tugas yang dia harus emban sekarang adalah menjadi sosok mahasiswi yang mandiri dan bisa mengelola uang kiriman dari orang tuanya dengan sebaik-baiknya, paling tidak dia harus sedikit terhindar dari godaan-godaan di sekitar kampus (alias kantin). Yap,. Secara tidak langsung kantin merupakan godaan yang harus anak-anak kost hindari, karena kantin bisa melenyapkan uang kiriman mahasiswa dengan seketika.hha..

Naa.. lain lagi cerita dan derita yang harus dialami ketiga sobatnya yang tinggal di Palembang bersama kedua orang tua mereka masing-masing. Si Arief, si Boni, dan si Nunu harus mengalami “Tragedi Rebutan Kursi di Bus Kota” yang harus mereka tumpangi setiap harinya. Sampai-sampai mereka punya strategi jitu tersendiri dalam perebutan kursi itu.

Si Arief dengan tubuhnya yang atletis dan kelincahannya, ia segera berlari dan menggendong tas di bagian depan tubuhnya agar orang tak bisa menarik tubuhnya dari belakang.Sedangkan Boni hanya memanfaatkan tubuhnya yang jangkung untuk memasukkan tasnya terlebih dahulu ke dalam bis melalui jendela sebagai tanda itu kursi udah ada pemiliknya (emang pemilik apa kali yaa.. haa). Lain halnya dengan Nunu, walaupun dia cewek tapi ia selangkah lebih gesit dari kedua teman-tamannya itu.

Sebelumnya dia sudah tau kondisi yang bakal terjadi saat itu sehingga hari sebelumnya ia sudah memasang kuda-kuda untuk pedekate dengan kondektur bus langganannya tersebut. Tapi jangan salah sangka.. usut punya usut pdkt nya si Nunu itu ada tujuan jangka panjangnya. Alhasil ia memperoleh nomor handphone ntu kondukter. So, dengan satu senjata itu dia bisa memesan satu tempat duduk yang ideal untuknya keesokan hari. Tau nggak apa yang terjadi keesokan harinya.?!

Yak.. Saat semua orang sibuk berebut dan berdorong-dorongan untuk dapat masuk dan mendapatkan tempat duduk, ia malah sibuk dengan kaca di depannya dan memperbaiki dandanannya. Lantas setelah semua sudah pada tenang, ia dengan santai dan gontai berjalan masuk ke dalam bus tanpa memperhatikan seisi penumpang atau para mahasiswa di bus yang menatapnya dengan tajam.

Gila lu nu.. pake mantra apa lu bisa menyulap seisi bus yang tadinya ricuh berebut tempat jadi terdiam menatap mu gini, samber Arief yang kebetulan duduk di samping kursi Nunu. Iya pake pelet apa lu ke kondukturnya, bisa-bisanya lu dapet tempat duduk tanpa perjuangan gitu, tambah Boni. Pelet.?! Bukan tuh makanan ikan yah, jawab Nunu santai tanpa memperdulikan  kehebohan kedua temannya. Yeea.. ni anak sempet-sempetnya becanda di saat semua mata tertuju padamu, halagh.. kok jadi kayak acara puteri Indonesia gitu yah timpal Arief dengan kekocakannya.

Itu la sepenggalan permulaan derita yang keempat sahabat itu harus biasakan selama jadi mahasiswa di UNSRI. Dan banyak hal lainnya, dari dosen nggak dateng mpe bertumpuknya tugas-tugas yang harus mereka selesaikan dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan intinya mereka berempat akhirnya bisa beradaptasi dalam sikon yang seperti itu, dan saling mendukung satu sama lain untuk satu tujuan yang sama, yaitu Cumlaude.

by Fenty Tri Hidayati